03. Seorang jamaah dengan tangan terangkat dalam doa di bukit Safa, dengan Ka'bah terlihat di kejauhan.

Panduan Lengkap Tata Cara Sa’i 🕋

Rukun, Sunnah, dan Hikmahnya

Ibadah Sa’i merupakan salah satu rukun penting dalam pelaksanaan Haji dan Umroh. Ia adalah napak tilas perjuangan agung Siti Hajar dalam mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Lebih dari sekadar berjalan bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah, Sa’i adalah simbol keimanan, ketabahan, dan tawakal seorang hamba kepada Allah SWT. Artikel ini akan mengupas tuntas tata cara Sa’i, mulai dari pengertian, rukun, sunnah, hingga doa-doa yang dianjurkan, serta hikmah mendalam di baliknya.

Dengan memahami setiap detail dan makna di balik ibadah Sa’i, diharapkan perjalanan spiritual Anda menjadi lebih khusyuk dan bermakna. Mari kita selami lebih dalam esensi dari rukun Sa’i ini.

1. Memahami Esensi Sa’i: Rukun Ibadah yang Penuh Makna

Sa’i secara bahasa berarti ‘berusaha’ atau ‘berjalan cepat’. Dalam konteks ibadah Haji dan Umroh, Sa’i adalah berjalan kaki atau berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali bolak-balik antara Bukit Safa dan Bukit Marwah. Ibadah ini dimulai dari Bukit Safa dan berakhir di Bukit Marwah. Jarak antara kedua bukit ini diperkirakan sekitar 383,25 meter, sehingga total jarak yang ditempuh selama tujuh putaran adalah sekitar 2,7 kilometer [1].

Kedudukan Sa’i sebagai rukun ibadah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 158:

اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا ۗ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًاۙ فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka, siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, lagi Maha Mengetahui.” [1]

Selain itu, Rasulullah SAW juga memerintahkan pelaksanaan Sa’i, sebagaimana diriwayatkan oleh Barrah binti Abu Tajrah: “Bahwa Rasulullah SAW melakukan ibadah sa’i pada ibadah haji beliau antara Shafa dan Marwah, dan beliau bersabda, ‘Lakukanlah sa’i karena Allah telah mewajibkannya atas kalian.'” (HR Daruquthni) [1]. Ini menunjukkan bahwa Sa’i bukan sekadar ritual fisik, melainkan perintah ilahi yang memiliki bobot spiritual yang sangat tinggi.

01. Koridor Safa dan Marwah yang ramai di Masjidil Haram, dipenuhi jamaah yang melakukan Sa'i.
01. Koridor Safa dan Marwah yang ramai di Masjidil Haram, dipenuhi jamaah yang melakukan Sa’i.

2. Tata Cara Sa’i: Langkah Demi Langkah Pelaksanaan

Pelaksanaan Sa’i harus mengikuti urutan dan ketentuan tertentu agar sah dan diterima di sisi Allah SWT. Berikut adalah tata cara Sa’i yang benar:

  1. Dimulai Setelah Tawaf: Sa’i wajib dilakukan setelah menyelesaikan Tawaf Ifadah atau Tawaf Qudum. Tidak sah Sa’i yang dilakukan sebelum Tawaf.
  2. Niat Sa’i: Niatkan dalam hati untuk melaksanakan Sa’i karena Allah SWT. Meskipun niat Sa’i hukumnya sunnah, namun sangat dianjurkan untuk menguatkan tujuan ibadah.
  3. Menuju Bukit Safa: Mulailah perjalanan dari Bukit Safa. Disunnahkan untuk naik ke atas bukit Safa dan menghadap Ka’bah sambil membaca doa dan berzikir.
  4. Perjalanan Safa ke Marwah (Putaran 1): Berjalanlah dari Bukit Safa menuju Bukit Marwah. Bagi laki-laki, disunnahkan untuk berlari-lari kecil (disebut harwalah) di antara dua pilar hijau yang menandai area tertentu. Wanita cukup berjalan biasa.
  5. Perjalanan Marwah ke Safa (Putaran 2): Setelah sampai di Bukit Marwah, naiklah ke atas bukit, menghadap Ka’bah (jika memungkinkan), dan berzikir. Kemudian berjalan kembali menuju Bukit Safa.
  6. Melanjutkan Hingga Tujuh Putaran: Lanjutkan perjalanan bolak-balik antara Safa dan Marwah hingga genap tujuh putaran. Perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung satu putaran, dan dari Marwah ke Safa dihitung putaran berikutnya. Sa’i akan berakhir di Bukit Marwah pada putaran ketujuh.
  7. Tertib dan Berkesinambungan (Muwalat): Disunnahkan untuk melakukan Sa’i secara berkesinambungan tanpa jeda yang terlalu lama, kecuali ada uzur syar’i.

Penting untuk menjaga kesucian diri selama Sa’i, meskipun tidak menjadi syarat sahnya, namun sangat dianjurkan untuk berwudhu. Selama perjalanan, perbanyaklah zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.

02. Para jamaah berjalan dan berlari kecil antara Safa dan Marwah, dengan lampu hijau terlihat.
02. Para jamaah berjalan dan berlari kecil antara Safa dan Marwah, dengan lampu hijau terlihat.

3. Doa-doa Mustajab Selama Sa’i: Menguatkan Koneksi Spiritual

Selama melaksanakan Sa’i, terdapat beberapa doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca. Doa-doa ini tidak hanya mengiringi setiap langkah, tetapi juga menguatkan koneksi spiritual jemaah dengan Allah SWT. Berikut adalah beberapa doa penting yang bisa Anda panjatkan:

1. Doa Ketika Pertama Kali Mendekati Safa:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَرَسُولُهُ إِنَّ الصَّفَا والْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ، فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أو اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا، وَمَنْ تَطوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ. أَبْدَأَ بِمَا بَدَأ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ

Latin: Bismillahirrahmaanirrahiim wa rasuluh. Innash shofaa wal marwata min sya’airillah, fa man hajjal baita awi’ tamara falaa junaaha ‘alaihi an yat thouwwada bihimaa, wa man tathouwwa’a khoiron fa innallaha syaakirun ‘aliim. Abda’u bimaa bada’allahu bihi wasuluh.

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. Aku memulai sa’i dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memulai.” [3]

2. Doa di Atas Bukit Safa Ketika Menghadap Ka’bah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ. اَللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا الْحَمْدُ للهِ عَلَى مَا أَوْلَانَا. لَا إِلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لاَشَريكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْيْ قَدِيْرٌ. أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَالْحَمْدُ لله رب العالمين

Latin: Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar walilahil hamd. Allahuakbar ‘alaa maa hadaanal hamdullahi ‘alaa maa aulaana. Laa ilaaha illallahu wahdahulaa syariikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in qodiir. An jaza wa’dahu wa nashara ‘abdahu wahazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaha illallahu walaa na’budu illa iyyahu muhlisiina lahuddaina wa laukarihal kaafiruuna walhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar, atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kami, segala puji bagi Allah atas karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepada kami, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian, Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan sendiri musuh-musuh-Nya. Tidak ada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan kepatuhan semata kepada-Nya walaupun orang-orang kafir membenci, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam.” [3]

3. Doa di Antara Dua Pilar Hijau/Sepanjang Lampu Hijau:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا لا نَعْلَمُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأُخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbighfir warham wa’fu wa takarram, wa tajaawaz ammaa ta’lam innaka ta’lamu maa laa na’lamu. Allahummaghfir warham innaka antal aa’azzul akram. Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanatan wa fil aakhirati hasanatan waqina adzaa bannaar.

Artinya: “Ya Allah ampunilah, sayangilah, maafkan dan bermurah hatilah serta hapuslah apa yang Engkau ketahui. Sungguh Engkau tahu apa yang kami sendiri tidak tahu. Ya Allah ampuni dan sayangilah (kami), sesungguhnya Engkau adalah Allah Maha Mulia dan Maha Pemurah. Ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan lindungilah kami dari azab api neraka.” [3]

03. Seorang jamaah dengan tangan terangkat dalam doa di bukit Safa, dengan Ka'bah terlihat di kejauhan.
03. Seorang jamaah dengan tangan terangkat dalam doa di bukit Safa, dengan Ka’bah terlihat di kejauhan.

4. Sejarah Sa’i: Napak Tilas Perjuangan Siti Hajar

Untuk memahami makna Sa’i secara utuh, kita perlu menelusuri sejarah Sa’i yang berakar pada kisah agung Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS dan ibu dari Nabi Ismail AS [2]. Kisah ini bermula ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan Siti Hajar dan putranya, Ismail yang masih bayi, di lembah tandus Makkah yang kala itu belum berpenghuni.

Dengan bekal yang terbatas, Siti Hajar dan Ismail bertahan hidup. Namun, tak lama kemudian bekal mereka habis, dan Ismail kecil mulai menangis kehausan. Dalam keputusasaan, Siti Hajar berlari mencari air. Ia naik ke Bukit Safa, berharap melihat kafilah atau sumber air. Tidak menemukan apa-apa, ia turun dan berlari menuju Bukit Marwah. Demikian ia lakukan berulang kali, tujuh kali bolak-balik antara kedua bukit tersebut, dengan hati yang penuh harap dan tawakal kepada Allah [2].

Setelah putaran ketujuh, ketika ia berada di Bukit Marwah, Allah SWT menunjukkan mukjizat-Nya. Air memancar deras dari bawah hentakan kaki kecil Nabi Ismail. Inilah sumur Zamzam yang keberkahannya abadi hingga kini. Peristiwa heroik Siti Hajar ini kemudian diabadikan sebagai salah satu rukun dalam ibadah Haji dan Umroh, yang kita kenal sebagai Sa’i. Ini adalah pengingat akan ketabahan, keimanan, dan keyakinan teguh seorang hamba bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi mereka yang berusaha dan bertawakal.

04. Seorang jamaah dengan tangan terangkat dalam doa di bukit Safa, dengan Ka'bah terlihat di kejauhan.
04. Seorang jamaah dengan tangan terangkat dalam doa di bukit Safa, dengan Ka’bah terlihat di kejauhan.

5. Hikmah dan Keutamaan Sa’i: Pelajaran Berharga Bagi Umat

Ibadah Sa’i bukan sekadar ritual tanpa makna. Di baliknya terkandung hikmah dan keutamaan Sa’i yang mendalam, memberikan pelajaran berharga bagi setiap Muslim yang melaksanakannya [4]. Berikut adalah beberapa hikmah utama dari ibadah Sa’i:

  • Belajar Tentang Keimanan: Kisah Siti Hajar mengajarkan kita tentang keimanan yang kokoh. Keyakinannya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya, meskipun ditinggalkan di tempat tandus, adalah teladan bagi kita untuk selalu percaya pada janji Allah.
  • Tawakal dan Ikhtiar: Sa’i adalah perwujudan sempurna dari tawakal yang disertai ikhtiar. Siti Hajar tidak hanya pasrah, tetapi ia berusaha sekuat tenaga mencari solusi. Ini mengajarkan bahwa tawakal bukanlah berdiam diri, melainkan berusaha maksimal kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
  • Kesabaran dan Ketabahan: Tujuh kali bolak-balik antara Safa dan Marwah adalah ujian kesabaran dan ketabahan. Ini melambangkan bahwa dalam hidup, kita akan menghadapi berbagai cobaan yang membutuhkan ketekunan dan pantang menyerah.
  • Pengorbanan dan Kasih Sayang: Perjuangan Siti Hajar adalah bentuk pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Ini mengingatkan kita akan pentingnya pengorbanan demi orang yang dicintai dan ketaatan kepada perintah Allah.
  • Mengingat Nikmat Allah: Munculnya air Zamzam adalah nikmat dan mukjizat dari Allah. Sa’i mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, terutama dalam situasi sulit.

Melalui Sa’i, jemaah diajak untuk merenungkan kembali nilai-nilai fundamental dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah kesempatan untuk memperkuat iman, melatih kesabaran, dan meningkatkan tawakal kepada Sang Pencipta.

05. Wajah seorang jamaah yang tekun selama Sa'i, menunjukkan keringat dan fokus spiritual.
05. Wajah seorang jamaah yang tekun selama Sa’i, menunjukkan keringat dan fokus spiritual.

Tabel Perbandingan Rukun dan Sunnah Sa’i

AspekRukun Sa’iSunnah Sa’i
DefinisiBagian inti ibadah yang jika ditinggalkan, Sa’i tidak sah.Amalan pelengkap yang jika ditinggalkan, Sa’i tetap sah namun mengurangi kesempurnaan pahala.
Contoh
  • Dimulai dari Safa
  • Berakhir di Marwah
  • Menyempurnakan 7 putaran
  • Niat Sa’i
  • Berkesinambungan (Muwalat)
  • Berlari kecil (harwalah) bagi laki-laki di area hijau
  • Membaca doa-doa khusus
  • Suci dari hadats
Konsekuensi Jika DitinggalkanSa’i tidak sah, harus diulang atau membayar dam (denda) jika tidak bisa diulang.Sa’i tetap sah, namun pahala berkurang. Tidak ada kewajiban mengulang atau membayar dam.

Kesimpulan

Ibadah Sa’i adalah rukun yang tak terpisahkan dari Haji dan Umroh, sebuah perjalanan spiritual yang meneladani ketabahan Siti Hajar. Setiap langkah antara Safa dan Marwah adalah pengingat akan keimanan, ikhtiar, tawakal, dan kesabaran yang harus dimiliki seorang Muslim. Dengan memahami dan melaksanakan Sa’i sesuai tuntunan, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga memetik pelajaran hidup yang sangat berharga.

06. Pemandangan udara seluruh koridor Sa'i, menunjukkan luasnya dan pergerakan jamaah yang terus menerus.
06. Pemandangan udara seluruh koridor Sa’i, menunjukkan luasnya dan pergerakan jamaah yang terus menerus.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Sa’i

  • Q: Apakah Sa’i harus dilakukan dalam keadaan suci dari hadats (punya wudhu)?
  • A: Bersuci dari hadats (berwudhu) saat Sa’i hukumnya sunnah, bukan syarat sah. Jadi, jika batal wudhu saat Sa’i, ibadah Sa’i tetap sah, namun disunnahkan untuk memperbarui wudhu untuk kesempurnaan pahala.
  • Q: Bagaimana jika lupa hitungan putaran Sa’i?
  • A: Jika ragu dengan jumlah putaran, ambillah jumlah yang paling sedikit yang Anda yakini. Misalnya, jika ragu apakah sudah 5 atau 6 putaran, anggaplah baru 5 putaran dan lanjutkan hingga genap 7 putaran.
  • Q: Bolehkah Sa’i menggunakan kursi roda atau skuter listrik?
  • A: Ya, bagi jemaah yang memiliki uzur syar’i seperti sakit, lansia, atau memiliki keterbatasan fisik, diperbolehkan menggunakan kursi roda atau skuter listrik. Ini adalah bentuk kemudahan dalam Islam.
  • Q: Apakah ada perbedaan Sa’i untuk laki-laki dan perempuan?
  • A: Perbedaan utamanya adalah pada bagian harwalah (berlari-lari kecil). Laki-laki disunnahkan untuk berlari kecil di antara dua pilar hijau, sedangkan perempuan cukup berjalan biasa.
  • Q: Kapan waktu terbaik untuk melakukan Sa’i?
  • A: Sa’i dapat dilakukan kapan saja setelah Tawaf. Namun, banyak jemaah memilih waktu setelah shalat Subuh atau setelah shalat Isya untuk menghindari keramaian dan cuaca panas

Wujudkan Impian Umroh Anda Bersama Panoramaumroh.com! Pesan Paket Umroh Terbaik Sekarang!

Referensi:

  1. detikHikmah – Tata Cara Sa’i Lengkap dengan Niat, Doa, Rukun, dan Hukumnya
  2. detikHikmah – Tata Cara Sa’i dan Bacaan Doa di Setiap Lokasi
  3. Safir Haramain – Inilah 5 Hikmah Sa’i dalam Ibadah Haji dan Umrah

 

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *